#Part 1 : Antara Cinderella Complex, Peter Pan Syndrome, dan Pentingnya Adversity Quotient (AQ)

by - February 20, 2019

parenting

Tubuh kecil dengan usia yang lebih muda dari seharusnya usia ideal sekolah dasar membuat saya sering menjadi korban olok-olok teman-teman sekelas. Saya ingat beberapa hal yang pernah teman-teman saya lakukan dulu ketika masih kelas empat-lima-enam sekolah dasar. 

Saat akan melakukan kerja bakti di sekolah, peralatan kerja sudah guru siapkan didepan kelas. Ada parang, sapu lidi, sapu ijuk, kotak sampah, pengki, dan lain-lain. Saya memilih sapu lidi untuk saya gunakan. Sapu lidi yang sudah saya dapatkan lebih dulu itu tiba-tiba langsung direbut oleh teman yang lain, yang badannya lebih bongsor dibanding saya yang mungil saat itu. Dengan tatapan mata tajam mereka seolah berkata "Apa lo? Berani sama gue?". Saya yang saat itu sendirian tidak berani mengambil kembali sapu lidi itu, akhirnya saya ikut kerja bakti dengan alat yang ada saja.

Saat pelajaran olahraga, murid perempuan dibagi menjadi dua kelompok, masing-masing kelompok menjadi satu tim dalam pertandingan voli. Saya juga ikut dalam pertandingan itu, saya berhasil mengembalikan bola ke arah lawan walaupun saat itu saya masih jauh sekali tingginya dengan tiang net. Singkatnya tim kami menang. Kelompok kami bersorak, semua saling 'toss' dan tertawa riang. Saya menyapa leader tim kami, "alhamdulillah kita menang ya.." tapi dia menatap saya keheranan "Kita? Emang kita satu kelompok?", lah waktu main tadi saya di sebelah dia lho padahal, kok dia malah nanya gitu, saya heran sekaligus merasa sedih sekali. Teman-teman lain yang satu tim juga bersikap kayak gitu pada saya, mereka bilang saya ngaku-ngaku setim sama mereka, padahal jelas-jelas dari mereka tahu memang saya satu tim dengan mereka. Mengkerut hati saya. Saya merasa tak dianggap.

sad
gambar dari pexels.com

Pernah suatu siang, saya dan teman sebangku saya yang juga berbadan mungil diancam akan diajak berkelahi sepulang sekolah, saya lupa apa sebabnya. "Awas ya nanti pulang sekolah, gua hadang lu." Kira-kira begitu kalimatnya. Saya dan teman sebangku saya mana berani. Pas lonceng tanda jam pulang berbunyi saya langsung lari keluar kelas dan secepat mungkin menjauhi gerbang, karena takut salah satu dari mereka sudah siap menghadang disana.

Selama sekolah dasar, murid yang menjadi juara 1, 2 dan 3 di kelas saya saat itu hanya bergiliran diantara 3 orang siswa saja. Mereka langganan sekali mendapat hadiah berbungkus kertas berwarna cokelat setiap kali moment pembagian raport. Tetapi keajaiban terjadi. Saya ingat betul saat itu pembagian raport catur wulan pertama  di kelas 6, jeng jeng jeng.. ternyata saya dapat juara 3. Semua teman-teman saya heran, tapi ada juga yang mengucapkan selamat. Saya merasa tidak percaya, tapi  juga senang. Akhirnya saya bisa merasakan dapat hadiah berbungkus kertas warna cokelat itu. Yeay!

Karena pergantian anggota juara kelas ini merupakan hal baru di kelas kami, teman-teman sekelas saya mempertanyakan "Kok bisa sih dia jadi juara 3?", "Dia pasti dapat bocoran dari guru pas ujian tuh.", dan lain sebagainya. Tapi teman sebangku saya tak peduli, dia bersyukur temannya dapat juara, dia turut bergembira dan dia bilang mulai iri mau jadi juara juga, aku menyemangati dia agar bisa jadi juara juga di pembagian raport berikutnya. Tapi kenyataannya tidak terjadi. Hihi.
Apakah sebahagia itu sepanjang hari? Tidak. Saat menjelang waktu pulang, teman sekelas saya yang tidak mendapat juara kali ini menghampiri saya dan berkata "Awas ya! Aku bakal rebut ranking kamu!!"  Namun ternyata alhamdulillah, sampai saya selesai sekolah dasar, beliau tetap dibawah dan diakhir tahun ajaran saya justru menjadi juara dua. 

Beberapa ejekan, ancaman, olok-olok yang masih saya ingat ketika masih berusia 8-10 tahun itu masih terkenang dalam benak saya hingga sekarang. Bisa dibayangkan anak dengan usia paling muda, tubuh paling kecil di kelas dan tak punya keberanian untuk melawan, tetapi harus menghadapi mereka setiap hari. Ancaman, olok-olok, kekerasan verbal, dan lain-lain sangat melukai jiwa kecil saya. Sayangnya masih ada beberapa lagi saat saya masuk ke sekolah menengah pertama. Itu belum termasuk olok-olok dari keluarga besar kalau sedang berkumpul, dan sedihnya saat itu saya merasa tak punya siapa-siapa untuk membela saya. Tidak ada yang membesarkan jiwa saya. Dan saya merasa sendiri menghadapi situasi ini. Ah entahlah, sampai sekarang saya heran sekali kenapa sering diolok-olok saat itu. Padahal seingat saya, saya tidak pernah mengganggu teman yang lain, bahkan saya tidak suka ada yang saling mengganggu.

sedih
gambar dari pexels.com

Karena perlakuan yang saya hadapi ini, muncul harapan didalam jiwa kecil saya untuk memiliki seseorang yang dapat melindungi saya dari hal-hal buruk seperti itu. Saya berharap akan ada sosok kakak laki-laki yang akan menjadi guardian angel. Saya memimpikan ada yang akan membela saya ketika saya disalahkan, yang akan menemani saya ketika dikucilkan, yang menguatkan saya ketika merasa takut, dan banyak sekali harapan saya untuk punya sosok seperti itu yang intinya akan selalu menyelamatkan saya dalam situasi apapun. Tapi ini lah mimpi yang tak akan pernah terwujud, karena saya anak sulung.

Saya membesarkan mimpi untuk mempunyai sosok itu, tapi saya tidak membuat diri saya mampu melindungi diri sendiri, kuat dengan kekuatan sendiri. Saya selalu berkhayal akan ada 'orang lain' yang membantu saya. Tapi orang itu entah siapa.

Ketika dewasa, saya mulai sedikit mengabaikan ingatan-ingatan tentang hal yang tidak mengenakkan itu. Saya mulai sedikit mengerti tentang positive thinking, parenting, dan lain-lain, yang ilmunya saya ambil dari beberapa buku atau artikel yang saya baca, atau beberapa video seminar yang saya tonton.
Saat membaca buku Smart Parenting with Love yang ditulis oleh Bunda Arifah, ada tulisan beliau yang membahas tentang salah satu tema seminar dari bunda Elly Risman (Pakar Psikologi) yang pernah Bunda Arifah ikuti, saya menemukan istilah Cinderella Complex, Peter Pan Syndrome, dan Adversity Quotient (AQ).



Dari penjelasan di buku tersebut Cinderella Complex biasanya menimpa anak wanita yang selalu dilindungi atau yang hidupnya dalam keadaan tertekan. Dia mengharap ada figur yang dapat menyelamatkannya pada setiap masalah yang dihadapi, tanpa berusaha berjuang dengan mengerahkan segenap kemampuan diri sendiri. Nah, pas sekali dengan apa yang saya alami bukan?

Anak perempuan dengan Cinderella Complex ini tidak dididik untuk menerima dan menghadapi kenyataan. Mereka diberi banyak mimpi tentang kisah happy ending, bahwa happy ending adalah reward dari a long and winding journey of struggling.

Saya jadi mengingat-ingat lagi sumber input dari harapan happy ending yang saya dapat, apakah karena sering menonton kartun robot kucing atau kisah fairytale para barbie, atau dari mana ya?

Lalu bagaimana dengan Peter Pan Syndrome dan apa kaitannya dengan Adversity Quotient (AQ)?




You May Also Like

0 comments

Terima kasih sudah berkunjung ^^,
meninggalkan jejak yang baik akan membuat yang ditinggalkan menjadi lebih baik