BELAJAR DARI ALI BANAT, SEORANG MILYUNER MUDA PENGIDAP KANKER

by - February 01, 2019

Semakin waktu berlalu, semakin banyak hal yang kita tahu. Tapi ada satu hal yang tak pernah dan tak akan pernah kita ketahui, jadwal kematian.

Ada seorang pemuda bernama Ali Banat, lahir dan besar di Sydney, Australia. Beliau adalah seorang pengusaha sukses yang dari perusahaannya bisa mendapatkan penghasilan jauh diatas rata-rata pemuda seusianya. Hidupnya bergelimang harta. Barang-barangnya pun tak ada yang murah. Kendaraannya seharga $600.000, sepatu seharga $ 1.300, gelang seharga $60.000, bahkan sandal jepit untuk ke toilet saja seharga $ 700, dan ini belum termasuk koleksi jam tangan, kacamata, topi dan baju limited edition dari salah satu brand ternama dunia. Bisa dibayangkan betapa kayanya pemuda ini. Tapi bagaimanakah akhirnya dia menghabiskan hartanya?

Tanpa terduga, tahun 2015 lalu Ali Banat divonis mengidap kanker stadium 4, dan oleh dokter disampaikan bahwa usianya paling hanya bertahan sekitar tujuh bulan saja. Sesuatu yang tak akan pernah bisa dibayangkan olehnya.

Suatu hari, saat Ali Banat menghadiri pemakaman seorang saudara yang meninggal karena kanker. Tersadarlah dia bahwa ketika nanti kita meninggal, kita tidak akan punya apa-apa. Tak ada yang akan ikut bersama kita. Tidak ada mobil, semua uang, bahkan ibu, ayah, dan saudara yang kita cintai.
Ali banat bersama anak-anak di Afrika

Lalu berubahlah tujuan hidup Ali Banat, yang selama ini hidupnya penuh dengan kenikmatan dunia akhirnya ingin dia tinggalkan. Bahkan dia ingin menghabiskan semua hartanya itu untuk aksi sosial kemanusiaan. Dia  tidak ingin meninggalkan harta apapun saat meninggal nanti. Ali melaksanakan sebuah proyek amal untuk masyarakat Togo, Afrika, dengan nama Muslim Around The World (MATW) Project.

Mobil Ferarri miliknya yang begitu diidamkan banyak orang sudah tak menarik hatinya lagi untuk dikendarai. Dia lebih senang melihat anak-anak di Afrika bisa tertawa riang karena bisa memakai sandal dibanding mengendarai mobil mewahnya itu. Kacamata mahalnya dia berikan saja kepada anak-anak disana, tanpa mereka sadari bahwa harga kacamata itu bisa untuk membeli kebutuhan mereka lebih dari jatah sebulan. 

Ali Banat terjun langsung dalam proses pembangunan gedung untuk Proyeknya di Afrika
Ternyata perkiraan dokter meleset. Ali yang diperkirakan akan bertahan 7 bulan saja ternyata bisa bertahan hingga tiga tahun. Dan alhamdulillah, selama kurang lebih tiga tahun ini Ali sudah banyak menginspirasi banyak orang untuk ikut dalam proyek amalnya. Ali dan proyeknya bisa membangun sekolah dan asrama untuk anak-anak yatim piatu di Afrika, membangun masjid, membangun kampung untuk 200 janda, dan masih banyak lagi. Ali Banat benar-benar merubah hidupnya. Ali bahkan bersyukur dan menganggap bahwa kanker yang dideritanya merupakan anugerah dari Allah. Karena dengan perantara penyakit ini Allah memberinya kesempatan untuk berubah menjadi lebih baik. Masyaallah.


Menjelang akhir hayatnya, Ali Banat membuat sebuah video singkat yang didalamnya Ali mengucapkan terima kasih kepada semua orang yang sudah mendukungnya sejak hari pertama. Ali juga menyampaikan bahwa kematian bisa datang kapan saja, dan kita di dunia ini bukan hanya untuk bersenda gurau, semuanya akan dipertanggungjawabkan di hari perhitungan nanti.

Dan Ali pun berpesan agar semua orang bisa punya proyek amal atau rencana kegiatan yang bisa menjadi jalan amal jariyah yang akan menjadi penolong kita nanti di alam kubur dan di akhirat.

Pesan Ali Banat sebelum meninggal dunia
Akhirnya, tepat 29  Mei 2018 lalu Ali Banat menghembuskan nafas terakhirnya. Dengan keadaan yang baik insyaallah. Semoga Allah menerima semua amal ibadahnya, dan memberikan tempat yang mulia. Terima kasih saudaraku Ali Banat. Sudah menginspirasi kami. Semoga ini pun bisa menjadi jalan amal jariyah untukmu.

Sudahkah kita punya sebuah proyek amal untuk hidup kita??
Dokumentasi kegiatan MATW Project di akun instagramnya


You May Also Like

36 comments

  1. Postingannya nyentrik banget nih mba, memang terkadang kita terlalu sibuk dengan dunia tanpa memperhatikan akhirat, yang penting yang wajib dilakuin setelah itu gak mikir yang lain lagi, Ali banad ini memang benar benar sosok menginspirasi dengan sakitnya saja dia bisa membantu orang lain, kenapa kita yang sehat tidak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul sekali, karena dua nikmat yang sering dilupakan manusia adalah nikmat sehat dan waktu luang. Jadi, giliran udah sakit dan punya waktu sempit baru deh tersadarkan.

      Delete
  2. Inspiratif mmg jalan cerita ali banat ini. Kanker yang dideritanya justru membuat dia menemukan hakikat hidup yang sesungguhnya. Semoga husnul khotimah.. Aamiin... Tfs mb..

    ReplyDelete
    Replies
    1. aamiin ya Allah, semoga kita pun bisa mengikuti jejak nya ya ^^

      Delete
  3. Masya Allah, terharu baca kisahnya. Memang sejatinya kita hidup di dunia ini tidak punya apa2 semua hanya titipan

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, saya juga harus sering2 menyadarkan diri soal ini. Seringnya sense of belonging terlalu tinggi, hihi ^^

      Delete
  4. Proyek amal? Rasanya belum ada. Semoga keinginan untuk mengikuti jejak Ali Banat dan menghadap kepada Allah dalam keadaan husnul khatimah diijabah oleh-Nya. Aamiin.

    ReplyDelete
  5. Merinding baca tulisannya mba, saya pernah liat videonya juga. Memang kita harus menyadarinya mumpung masih sehat untuk berbuat amal.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya ya, mumpung masih sehat, dan masih punya tenaga ^^

      Delete
  6. MasyaAllah, luar biasa, semoga Allah memberi saya kemampuan untuk mewujudkan proyek amal yang saya inginkan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. aamiin, semoga ya ba, mumpung masih ada umur ^^

      Delete
  7. Saya Juga jadi follower yayasan milihnya di ig mbak dan selalu update berita dia sampai akhirnya dia meninggal dan post pesan terakhirnya. Ikutan sedih Juga. But that's how life works. Jdi mumpung masih diberi umur berkah dan kesempatan smga kita bisa terus berbuat baik dan berbuat lebih

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya ya, projectnya luar biasa, berasa banget kalo kita tu belum ada apa2nya. T_T

      Delete
  8. masya Allah... ini jadi macem pengingat buat saya mbak. andai saya tahu batas umur saya kapan, pasti akan berusaha semaksimal mungkin untuk mencaei pahala jariyah yang terus mengalir hingga saya di alam kubur. sayangnya nggak. saya gatau kapan saya mati. ketidaktahuan ini yang seharusnya jadi lebih berusaha untuk mengupayakan kebaikan. bukan malah santai-santai.

    jazakillah khoir mbak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. waiyyaki, semoga semakin banya persiapan kita menuju jadwal perjalanan yang entah kapan ^^

      Delete
  9. Ya Allah makasih ya mbak sudah diingatkan kembali...
    Saya jadi merenung sendiri di kamar..
    Smga Al banat dilapangkan kuburnya ya Allah...diampuni dosanya..aamiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. aamiin, semoga kita bisa mengambil pelajaran dari apa yang menimpa beliau ya

      Delete
  10. Kisah yang begitu menginspirasi. Semoga kita juga bisa mempersiapkan proyek akhirat kita semua. Aamiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yuk kita siapin proyeknya, dari yang paling mudah dulu, emm tapi apa ya? ^^

      Delete
  11. Waktu pertama kali tahu ttg kisah Ali Banat ini klu gak salah waktu dia masih sakit sampai akhirnya meninggal. Kisah hdpnya memang benar2 menginspiratif apalagi pas nonton videonya waktu beliau sdh meninggal, Maa syaa Allaah saya sampai terharu sekali, Mbak. Banyaklah pelajaran yang bisa petik dari Ali Banat Rahimahullaah.. terutama agar jangan sampai kita terlalu hubbu dunya, karena semua yg kita punya di dunia ini nggak ada yang bisa dibawa ikut ke kuburan:')

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya juga berpikir panjang ketika menyaksikan video terakhir dari beliau, masyaallah saya rasa hanya orang pilihan saja yang Allah beri kesempatan untuk bisa menyampaikan pesan sebelum kematiannya, mengingat banyak yang meninggal secara mendadak.

      Delete
  12. perjalanan Ali Banat sungguh luar biasa ya Mbak. Saya terharu😢

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba, saya juga tersentuh dan tertampar sekali rasanya T_T

      Delete
  13. Walaupun jasad Ali Banat sudah tiada, tapi kebaikan dan semangat hijrahnya sudah diwarisi banyak orang. Insya Allah beliau husnul khatimah.
    Semoga kita semua yang masih sehat tersadar bahwa tidak perlu menunggu sakit dulu untuk berubah. Sekarang juga, dimulai dg hal2 kecil :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya setuju mba, mulai dari hal yang kecil dulu. Hal yang ringan dan mudah untuk kita kerjakan.

      Delete
  14. Luar biasa, pesannya wajib diteladani. Melakukan proyek amal sendiri ---> mudah-mudahan dapat inspirasi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin. Semoga apa yang beliau lakukan bisa kita contoh dan bisa diamalkan ya ^^

      Delete
  15. Salut. Smoga kita semua bs mengambil hikmah dari kisah Ali Banat. Inspiratif bnget kisah hidupnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin. Semoga apa yang beliau lakukan bisa kita contoh dan bisa diamalkan ya ^^

      Delete
  16. Baper baca kisah Ali Banat, dulu juga pernah menulis artikelnya pas dia baru meninggal. Nonton videonya nangis mulu...Betapa banyak manfaat yang dia kasih ke orang lain...Masya Allah...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masyaallah ya mba, jadi bahan renungan yang sangat dalam menyaksikan videonya T_T

      Delete
  17. aku tahu tentang ali banat ketika dia sudah meninggal mbak, insyaAllah husnul khatimah..aamiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin, semoga banyak pelajaran dan jadi pengingat untuk kita ya.

      Delete
  18. Inspiratif sekali, pantang menyerah. Kita harus bisa seperti itu juga!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayo, masukkan dalam daftar resolusi 2019 bund ^^

      Delete

Terima kasih sudah berkunjung ^^,
meninggalkan jejak yang baik akan membuat yang ditinggalkan menjadi lebih baik