Obrolan Pagi Bersama Bapak : Penuh Nasihat

by - January 08, 2019


Liburan semester dan liburan tahun baru kali ini kami sekeluarga berkumpul di rumah orang tua. Karena liburan yang lumayan lama, kami memutuskan untuk seminggu berada disana. Alhamdulillah, anak-anak bersemangat sekali saat akan diberitahu akan ke rumah Ino dan Unang nya. Saya pun tak kalah gembira, karena bisa makan makanan terlezat sejagad raya lagi, masakan Emak. Hihi.
Alif dan Fira, anak-anak saya yang menggemaskan itu adalah cucu pertama dan kedua mereka. Setiap musim liburan tiba, kehadiran dua bocah ini betul-betul menjadi hiburan bagi mereka yang sekarang sudah memasuki usia pensiunnya. 

Emak yang sudah tidak sekuat dulu bekerja di kebun kopi atau di sawah miliknya, sejak beberapa tahun terakhir memilih mengerjakan pekerjaan yang ringan saja untuk kegiatan sehari-hari. Di rumah Emak membuka warung kecil. Untuk memenuhi keperluan warungnya ini, setiap pagi Emak ke pasar. Sedangkan Bapak, masih ke kantor, dan masih sering juga ke kebun kopi. Walau rambut sudah hampir putih semua, Bapak masih kuat.

Ketika berada di rumah orang tua, ada saja yang bisa saya lakukan. Tapi  ada salah satu hal yang wajib saya lakukan saat pulang ke rumah, yaitu mengajak Bapak ngobrol. Beliau teman ngobrol yang seru. Bukan hanya menceritakan kegiatan  sehari-hari, kadang kami juga bisa bertukar pikiran tentang beberapa hal yang terjadi diantara keluarga besar, atau tentang desa, bahkan kadang tentang politik juga. Beliau, teman diskusi yang menyenangkan bagi saya sejak kecil. Tapi beliau sangat jarang memulai percakapan lebih dulu, mungkin karena bingung mau memulai percakapan darimana, karena anak-anaknya sering sibuk sendiri dengan kegiatan masing-masing.

Suatu pagi saat Emak sedang di pasar, melihat Bapak yang sedang santai dengan segelas kopi  di ruang tamu, saya tahu ini adalah waktu yang pas untuk ngobrol. Saya selalu memilih waktu ketika Bapak sedang santai,  dan ketika Emak sedang tidak ada.  Entahlah,  saya merasa Bapak akan lebih lepas bercerita apa pun saat kami sedang berdua saja. Saya lalu duduk di kursi sebelah kiri depan beliau. Berpikir kalimat pembuka apa yang pas untuk memulai percakapan.

Saya putuskan untuk bertanya tentang utang. Ya,  sejak saya kuliah, orang tua saya sudah mulai terbuka dengan setiap masalah yang terjadi, termasuk membicarakan soal utang yang melilit keluarga kami. Walau kadang Bapak tidak selalu setuju untuk menceritakannya, karena beliau takut saya kepikiran akan hal itu. Dan benar saja, setelah saya bertanya tentang utang itu, bertubi-tubi Bapak menjelaskan permasalahan yang selama ini tak pernah saya tahu, membuat saya sedikit merasa bersalah karena belum bisa membantu apa-apa. Lalu setelah itu dengan sendirinya obrolan pun mengalir.
Hasil gambar untuk bapak anak

Pembicaraan mulai beralih ke masalah rumah tangga yang lain. Dengan makna tersirat, dari obrolan kami ini saya menangkap bahwa apa yang kami bicarakan seolah Bapak sedang mengajari saya banyak hal. Diantaranya:

1. Banyak suami tidak betah di rumah,  karena istri yang terlalu cerewet.
Bapak bercerita soal suami yang selalu keluar rumah. Pulang kerja, makan siang duduk sebentar lalu pergi lagi, entah kemana. Sore pulang, selepas maghrib nanti pergi lagi sampai larut malam. Seperti terasa panas mungkin pantatnya kalau berada di rumah. Panas pula kupingnya, karena ternyata sang istri sering mengomel, dan yang diomelkan itu berulang-ulang seperti iklan sponsor.

Padahal saat suami berada di rumah, dia butuh ketenangan. Masalah yang terjadi di tempat kerja, atau di luaran sana ingin dia pinggirkan sejenak. Berharap di rumah dia bisa menenangkan pikiran,  menghibur diri, bercengkerama hangat dengan keluarga,  dan lain-lain.  Bayangkan bila dengan keadaan yang sedemikian rupa itu yang didapatinya dirumah adalah istri yang membahas permasalahan dari Sabang sampai Merauke,  alias mengomel. Sudahlah mengomelnya panjang,  suaranya cempreng,  fals pula. Kasihan sekali telinganya.

2. Posisikan Suami Sebagai Pemimpin Yang Dihormati
Bapak bercerita soal seorang suami yang sering dianggap remeh oleh istrinya. Semua yang istri lakukan seringnya tanpa persetujuan suami. Saat suami melarang istrinya melakukan sesuatu,  istrinya tidak peduli dan tetap melakukan apa yang suaminya larang itu.

Ketika perkataaan suami diabaikan, itu melukai kehormatannya sebagai pemimpin. Bagaimanapun, laki-laki tercipta dengan fitrahnya sebagai pemimpin. Dan dia memerlukan rasa hormat dari orang-orang terdekatnya agar fitrah jiwanya terpenuhi. Semenyebalkan apapun, dia tetaplah suami yang pintanya adalah perintah. Jadi jangan karena istri merasa benar, lalu mengabaikan apa yang sudah dikatakan oleh suami.

3. Sebagai Istri,  Pandailah Mengatur Keuangan
Terkait utang keluarga yang saya tanyakan diawal, saya paham bahwa ternyata utang itu terjadi karena ketidak-singkronan pengaturan keuangan antara Bapak dan Emak. Bapak maunya seperti ini, tapi Emak maunya seperti itu. Hasilnya, utang bukannya berkurang malah jadi bertambah.

Memang kudu seiya-sekata untuk urusan sensitif seperti ini.
Walaupun sumber keuangan itu dari aset pribadi istri, tetap saja kalau ada yang bisa dibicarakan, mungkin bisa sekalian menyusun rencana bersama suami kan.

4. Akui Kesalahan, Karena Dalam Keluarga Yang Salah Pun Tetap Dicinta
Ketika kita sebagai istri melakukan kesalahan, minta maaflah. Walaupun itu sesederhana menumpahkan minuman atau tak sengaja memecahkan gelas. Karena dari sana anak-anak akan belajar untuk mengakui kesalahan dan bertanggung jawab atas sekecil apapun perbuatannya. Dan bagi diri sendiri itu akan lebih melegakan, karena mengakui kesalahan pun tidak membuat kita kehilangan cinta keluarga. Ingat, kalau salah katakan salah. Janganlah selalu merasa benar. Karena menolak kebenaran, selalu merasa benar, dan meremehkan orang lain itu cirinya orang sombong. Tahu kan biangnya sombong itu siapa?

5. Biasakan Berdiskusi,  Agar Tak Ada Salah Persepsi 
Dengan seringnya suami dan istri ngobrol, bertukar pikiran dan berdiskusi apa saja, akan membuat ikatan emosi keduanya semakin akrab, chemistry terbangun, dan akan membuat suami istri saling memahami satu sama lain. Tapi harus diperhatikan juga bahwa laki-laki tidak bisa menangkap maksud dari ucapan dalam bentuk kalimat panjang, karena otak mereka tercipta hanya bisa menyerap dengan cepat kalimat langsung yang to the point, dan bukan kode-kodean. Kalau istri meminta sesuatu kepada suami, sampaikan dengan kalimat langsung, jangan bertele-tele. Jadi bagi istri yang selama ini bicaranya dengan makna tersirat atau kalimat bersayap atau apapun istilahnya, ada baiknya coba ganti kalimatnya. Jangan sampai sudah bicara  panjang lebar ternyata suami tidak paham, itu menyebalkan sekali. Bicara singkat dan fokus pada inti.


Obrolan pagi itu benar-benar membekas dalam ingatan saya. Melalui obrolan bersama Bapak terutama kisahnya bersama Emak membuka wawasan saya. Saya tersadar bahwa ternyata masih banyak hal yang belum saya ketahui di lingkup keluarga saya sendiri. Memang benarlah bahwa pengalaman adalah guru terbaik, jadi dari perjalanan hidup mereka yang sudah berpuluh tahun menjalani bahtera rumah tangga, saya bisa belajar banyak hal dan ternyata ilmu saya belum ada apa-apanya. Allah mengajarkan saya nasihat-nasihat berharga ini melalui mereka. Dan semoga, hal ini bisa menjadi wasilah bagi mereka untuk meraih pahala.

Ada yang sering ngobrol sama orang tuanya? Apa yang teman-teman ingat dari obrolan itu? Sharing yuk. ^^

You May Also Like

26 comments

  1. suami sebenarnya manusia yang sangat butuh perhatian ya mbaa, dibalik sikapnya yang sepertinya lebih kuat dari perempuan, ternyata laki-laki itu sejatinya hanya butuh didengarkan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener mba, kadang malah mereka lebih butuh pengertian dari kita ketimbang cuma protes ini itu, hihi.

      Delete
  2. bapaaak jangan ngerokok, hiks. Maafkan aku galfok sama rokoknya, hee. Iyes, bener banget nasihat-nasihatnya. Belajar banget sekarang selama udah berumah tangga nih. Diskusi itu penting jangan sampai salah sangka karena ada yang tak dibicarakan. Makasih bapaknya emje nasihatnyaa ~

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya nih mba, bapakku masih ngerokok, mohon doanya supaya Bapak dapat hidayah ya, biar sadar bahaya rokok dan berhenti ngerokok.

      Delete
  3. Bapak ... memang sosok yang penuh Inspirasi. Suka deh petuahnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah ya mba, Bapak memang membuka dunia bagi anak2nya.

      Delete
  4. Terima kasih atas nasihatnya, Mbak. Serasa Bapak sendiri. Karena Bapakku sudah tiada sejak aku kecil. Jadi, tidak sempat menikmati nasihat indah seperti ini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga bermanfaat ya mba nasihatnya. Semoga orang tua kita selalu diberi kebahagiaan oleh Tuhan dimanapun dia berada.

      Delete
  5. Bapakku sudah lama meninggal dunia. Alhamdulillah, beliau Rahimahullah meninggalkan banyak pelajaran yang kini kuterapkan dalam hidup. Di antaranya adalah pentingnya untuk menjadi diri sendiri dan jangan mudah terpengaruh oleh pergaulan yang tidak baik. Duh, jadi kangen Bapak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masyaallah, ketika sudah dewasa baru terasa bahwa apa yang beliau sampaikan benar2 bermakna ya mba ^^

      Delete
  6. Sayangilah Bapak kita, karena suatu saat kita pasti berpisah dengan Beliau.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masyaallah, benar sekali Kang. Semoga berpisah di dunia saja, dan dibersamakan lagi di surga.

      Delete
  7. MasyaAllah, nasehat yang sungguh luar biasa terimakasih banyak mbak

    Bapak saya baru aja meninggal tapi bagi saya bapak sosok yang sangat mulia

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga Allah menempatkan orang tua kita di tempat yang mulia ya mba.

      Delete
  8. Alhamdulillah, bapaknya masih sehat ya Mbak. Ngobrol dgn bapak slalu memberi kenangan indah. Membaca tulisan ini membuat saya kangen bapak yang telah alm.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga Allah melapangkan kuburnya, dan meneranginya dengan doa2 dari anak2nya yang shalih dan shalihah.

      Delete
  9. bener ya, kalo ngobrol sama bapak tuh dapet banyak pelajaran soal rumah tangga. dan kebanyakan apa yang disarankan bapak soal suami selalu bener.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya ya mba, jadi sekalian mengambil pelajaran dari pengalaman2 mereka selama berumah tangga. ^^

      Delete
  10. Ah, Mbak, saya nangis baca ini. Bukan apa-apa, cuma jadi rindu dan iri sekali sama Mbak karena masih bisa ngobrol berdua dengan Bapak seperti itu. Ini juga kebiasaan saya dengan Bapak sebelum beliau tiada.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masyaallah, semoga Allah kumpulkan lagi mba Ayu dengan seluruh anggota keluarga nanti di surga ya mba.

      Delete
  11. Bapak saya sudah meninggal sebelum saya berumah tangga. Jadi ingat beliau yg sayang banget sama saya meski dari luar terkesan keras.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sering sekali penampilan Bapak tampak keras diluar tapi ternyata menyimpan kekhawatiran paling besar kepada anak2 perempuannya. Semoga Allah lapangkan kuburnya dan menempatkan bapak di tempat yang mulia ya mba. ^^

      Delete
  12. Saya ga bisa ngobrol lagi dg Bapak :(
    Sudah 11 tahun beliau pergi. Tapi tentu saja kenangan obrolannya dg beliau tetap terngiang2. Diantaranya adalah tentang kesederhanaan. Itu sekarang yg berusaha saya terapkan.
    Nah, pastinya sekarang saya hanya bisa ngobrol dg ibunda. Yang kami bicarakan banyaaaak. Seringnya sih berkesan dan jadi nasihat buat saya.
    Salam hormat buat bapaknya ya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masyaallah, kesederhanaan justru menunjukkan keistimewaan seseorang. Semoga Allah melapangkan kuburnya dan menempatkan beliau di tempat yang mulia ya mba. Semoga mba dan ibunda juga sehat2 selalu, berkah dalam usia dan berkumpul lagi nanti disurga. ^^

      Delete
  13. Ngobrol dengan bapak adalah sesuatu yg sangat menyenangkan y mb
    Jadi tahu sudut pandang laki2 gimana

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul sekali, kadang merasa surprise dengan sudut pandang mereka yang sangat berbeda dr ekspektasi perempuan, ^^

      Delete

Terima kasih sudah berkunjung ^^,
meninggalkan jejak yang baik akan membuat yang ditinggalkan menjadi lebih baik