TANAH GERSANG

by - December 20, 2018

Hasil gambar untuk tanah gersang

Dalam hubungan-hubungan yang kita jalin di kehidupan, setiap orang adalah guru bagi kita. Ya, setiap orang. Siapapun mereka. Yang baik, juga yang jahat. Betapa pun yang mereka berikan pada kita selama ini hanyalah luka, rasa sakit, kepedihan, dan aniaya, mereka tetaplah guru-guru kita. Bukan karena mereka orang-orang yang bijaksana. Melainkan karena kitalah yang sedang belajar untuk menjadi bijaksana.

Mereka mungkin tanah gersang. Dan kitalah murid yang belajar untuk menjadi bijaksana. Kita belajar untuk menjadi embun pada paginya, awan teduh bagi siangnya, dan rembulan yang menghias malamnya.

Tetapi barangkali, kita justru adalah tanah yang paling gersang. Lebih gersang dari sawah yang kerontang. Lebih cengkar dari lahan kering di kemarau yang panjang. Lebih tandus dari padang rumput yang terbakar dan hangus. Maka bagi kita sang tanah gersang, selalu ada kesempatan menjadi murid yang bijaksana.

Seperti matahari yang tak hendak dekat-dekat bumi karena khawatir nyalanya bisa memusnahkan kehidupan. Seperti gunung api yang lahar panasnya kelak menjelma lahan subur, sejuk menghijau berwujud hutan.

Dan seperti batu cadas yang memberi kesempatan lumut untuk tumbuh di permukaannya. Dia izinkan sang lumut menghancurkan tubuhnya, melembutkan kekerasannya. Demi terciptanya butir-butir tanah. Demi tersedianya unsur hara agar pepohonan berbuah.


(Salim A Fillah, Dalam Dekapan Ukhuwah, hal. 81-82)

You May Also Like

2 comments

  1. Wuah sematan hikmah ini bagus bangeeeet sih mba. Menentramkan, dan tak salah yang nulis Salim A Fillah, penulis favoritku nih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masyaallah, penyuka Salim A Fillah juga ya. Memang tulisan ini menginsafkan diri yang sering susah menerima buruk/pahit yang menimpa, padahal didalamnya insyaallah ada kebaikan.

      Delete

Terima kasih sudah berkunjung ^^,
meninggalkan jejak yang baik akan membuat yang ditinggalkan menjadi lebih baik