Benarkah Gula Putih Itu Racun?

by - October 29, 2018


gula putih, kesehatan, diabetes, lever, kegemukan

Gula putih adalah benda yang sangat akrab dengan keseharian kita. Gula ini sering kita gunakan untuk dicampurkan pada masakan, adonan kue, untuk menambah nikmat dalam minuman, dan lain sebagainya.

Gula sejatinya merupakan karbohidrat kompleks saat masih dalam bentuk aslinya yang berasal dari perasan tebu. Akan tetapi, setelah diproses dalam proses yang panjang, perasan tebu dipanaskan, dikristalkan, diputihkan, diberi pengawet, dan seterusnya. Sehingga hilanglah semua vitamin, protein, mineral, dan enzim lalu yang tersisa hanya karbohidratnya saja. Proses ini disebut rafinasi.

Karena kandungannya banyak hilang, beberapa pakar nutrisi menyebut gula pasir sebagai racun, bukan pemanis. Tahun 1957, Dr. William Coda Martin menjelaskan mengapa gula putih begitu berbahaya. Lalu dia memasukkan gula putih kedalam golongan racun (poison), bukan makanan. (William Coda Martin, "When is a Food a Food and When a Poison?", Michigan Organic News, March 1957).

Gula putih hasil rafinasi yang dimakan tiap hari akan menghasilkan keasaman tubuh yang tinggi, dan makin banyak mineral dari dalam tubuh yang dipakai untuk menyeimbangkan asupan tersebut.

Memakan gula putih lebih buruk dari pada tidak makan sama sekali karena ia akan menguras dan melarutkan vitamin dan mineral dalam tubuh. Lalu untuk memproteksi diri dari asupan gula yang tinggi, tubuh terpaksa menggunakan kalsium dari tulang atau gigi dan magnesium dari enzim dalam tubuh untuk menetralkan atau menyeimbangkan tubuh dari keasaman yang diakibatkan gula putih. Dari proses proteksi tubuh inilah yang akan menyebabkan pengeroposan tulang (osteoporosis) dan gigi (gigi tipis dan berlubang).



Kelebihan asupan gula dapat memengaruhi seluruh organ tubuh. Mulanya gula akan disimpan dalam hati (lever) dalam bentuk glukosa (glikogen). Oleh karena kapasitas lever terbatas, asupan harian dari gula putih akan membuat gula menggelembung, seperti balon. Jika lever sudah maksimum, kelebihan glikogen tersebut dikembalikan ke dalam darah dalam bentuk fatty acids. Kemudian kan dibawa ke seluruh tubuh dan ditaruh di dalam tempat yang paling tidak efektif, seperti perut, pantat, payudara, dan paha. Jadinya kita tampak gemuk. Haduuhh.

Jika tempat-tempat ini pun sudah penuh sesak, fatty acids akan didistribusikan pada organ aktif, seperti jantung dan ginjal. Mulailah organ tersebut melemah dan berubah menjadi lemak. Seluruh badan terpengaruh karena organ tersebut melemah dan tekanan darah menjadi tidak normal. Kemampuan badan untuk imunitas menjadi berkurang dan tubuh kita tidak dapat merespons dengan cepat serangan dari luar, seperti dingin, panas, mikroba, atau virus.

Kelebihan gula berefek buruk pada otak. Kunci dari fungsi otak normal adalah asam glutamat. Vitamin B dalam tubuh akan mengubah asam glutamat ini menjadi senyawa kimia yang mengatur kerja otak. Vitamin B diproduksi oleh bakteri baik yang tinggal dalam usus. Ketika gula putih dikonsumsi setiap hari, maka bakteri ini akan melemah dan banyak yang mati. Akibatnya, produksi vitamin B menurun drastis.

Jadi, solusinya adalah bijaklah mengkonsumsi gula putih dalam keseharian kita dan mulai mengkonsumsi pemanis alami seperti madu, gula aren, gula kelapa, gula tebu, gula stevia, atau gula singkong.

Semoga bermanfaat ya.
----------------------------------------------------------------
*Source: Jurus Sehat Rasulullah, dr. Zaidul Akbar

You May Also Like

2 comments

  1. hmmm memang sejak dini kita harus bijak mengonsumsi gula dan juga garam sesuai pesan pedoman gizi seimbang. salam kenal mba

    ReplyDelete
    Replies
    1. salam kenal juga mba rizka, makasih udah mampir ya ^^

      Delete

Terima kasih sudah berkunjung ^^,
meninggalkan jejak yang baik akan membuat yang ditinggalkan menjadi lebih baik