Bukan Tentang Apa, Tapi Bagaimana Sikapmu

by - October 18, 2018

Ada seekor keledai tua milik seorang petani tua. Petani itu sangat menyayangi keledainya, karena keledai ini telah menjadi sahabat perjuangan selama belasan tahun menyambung hidup. Si keledai adalah andalannya untuk membajak ladang, menebar benih tanaman, dan mengangkut panen.

Pada suatu sore, keledai ini terperosok ke dalam sebuah sumur tua yang sudah kering. Keledai itu meringkik-ringkik di dalam kegelapan sumur di bawah sana. Entah meringkik karena ia kesakitan, ketakutan atau mungkin kebingungan. Si Petani yang sangat menyayangi keledainya ini berusaha menolong. Dicobanya segala cara yang dia bisa agar keledainya itu dapat keluar.

Hasil gambar untuk keledai

Dia berpikir keras, apa yang harus dilakukannya. Mula-mula dia mengambil tali, diulurkannya ke dalam sumur. Diteriakinya sang keledai agar menggigit tali itu. Ditariknya kuat-kuat tapi justru talinya terlepas dari genggaman dan dia terpelanting. Dia coba lagi menggunakan tali yang ujungnya sudah diikat seperti lasso. Dia ulurkan lagi ke dalam sumur agar si keledai mengikatkan ke tubuhnya dan dia bisa menariknya ke atas. Dia mulai menarik tali itu. Berat, berat sekali, terdengar juga si keledai berseru-seru serak, seperti kesakitan. Ternyata tali itu tersangkut di lehernya saja. Gagal lagi. Dia mulai merasa sia-sia.

Melihat disekeliling ada rumpun bambu, dengan senjata yang dia bawa, ditebanglah sebatang bambu yang nampak kokoh lalu ia ulurkan pula ke dalam sumur, lalu ia minta keledai itu menjepit bambu itu dengan kaki-kakinya lalu dia tarik bambu itu ke atas. Tapi ternyata gagal juga. Dia coba cara lainnya. Dia padukan antara tali dan bambu, dicobanya pula balok-balok kayu, dan semua upaya yang dia bisa. Tetap tidak berhasil.

Tenaganya habis, harapannya pun juga mulai habis. Hari sudah semakin gelap. Akhirnya, dengan keputus-asaan dia memutuskan untuk menimbun saja keledai kesayangannya itu. Pikirnya, biarlah keledai tua ini beristirahat di dalam sana, setelah belasan tahun mengabdi. Matanya basah, dadanya sesak. Tangisnya tertahan, tapi dia mulai mengayunkan cangkul, dia mulai menimbun.

Segumpal dua gumpal tanah mengenai tubuh keledai. Keledai ini bingung dan marah. Dia sedang terjebak didalam sumur itu, tapi kenapa ada tanah yang masuk menimbun dirinya. Lama keledai diam. Tanah semakin banyak masuk ke dalam sumur, bertimbun-timbun. Melihat timbunan tanah yang semakin banyak, lalu tahu lah si keledai apa yang harus dilakukannya.
Dia angkat kakinya naik ke atas setiap timbunan tanah yang jatuh ke dasar sumur. Berpindah ke kanan atau ke kiri menghindari bongkahan tanah yang meluncur bertubi-tubi, atau menggoyangkan badannya saat guyuran tanah menimpa punggungnya. Timbunan tanah semakin meninggi, keledai terus naik. Hingga senja berubah menjadi malam.

Sang petani yang bersedih mengira bahwa keledainya telah tertimbun sempurna di dalam sumur gelap itu. Habis tenaganya, habis harapannya. Dia rebahkan tubuhnya di samping sumur itu. Lalu tiba-tiba, terdengar ringkikan keledai yang segera meloncati tubuhnya yang sedang berbaring itu. Keledai berhasil keluar.

kisah, hikmah, kisah hikmah, positive thinking, berpikir positif

Ibarat kita adalah keledai,  sumur itu adalah kesusahan, tanah itu adalah masalah. Kira-kira hikmah apa yang bisa kita ambil dari kisah ini?

BAIK SANGKA

Keledai ini mengajarkan kita untuk melihat hal apa yang bisa dia lakukan dengan timbunan tanah yang menerpanya. Dengan baik sangka dia memanfaatkan peluang untuk meloloskan diri dari sumur gelap itu.
Ya. Berbaik-sangkalah pada setiap masalah yang menimpa. Karena timbunan masalah yang hadir menerpa dalam setiap 'sumur' kesusahan, akan mengangkat kapasitas diri kita menjadi lebih baik agar dapat keluar dari kegelapan, kekalutan, kemarahan dan kesedihan hidup.

Dengan berbaik sangka, jalan keluar dari setiap masalah akan tampak.
Dengan berbaik sangka pula, Allah akan tunjukkan kekuasaanNya.
Bukankah Allah sesuai persangkaan hambaNya?



You May Also Like

28 comments

  1. Sangat inspiratif. Terkadang kita memang marah karena masalah atau ujian yang menimpa. Padahal, semua itu justru datang untuk mendewasakan kita, membuat kita semakin tangguh hingga kelak menjadi manusia yang lebih baik.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mba, jadi pengingat untuk kita agar selalu berbaik sangka pada Allah ^^

      Delete
  2. Allah sesuai prasangka hamba-Nya ya Mbak. Terima kasih sudah mengingatkan

    ReplyDelete
    Replies
    1. sama-sama mba, saya juga sedang mengingatkan diri saya sendiri ^^

      Delete
  3. Menerima Taqdir dan ketentuan terkadang sulit.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar, karena selera Allah berbeda dengan selera kita. ^^

      Delete
  4. terharu saya baca ini, meski pernah dengar ceritanya.
    Menginspirasi banget. memang benar, sering kita (a.k.a saya) merasa sangat terpuruk dan lebihs ering berprasangka buruk dengan setiap masalah yang datang.

    ReplyDelete
  5. Berkali baca cerita ini, berkali itu pula tercerahkan. Ah, thanks, Mbak, salam kenal :)

    ReplyDelete
  6. Nice share ... Suka sama artikelnya, sangat menginspirasi

    ReplyDelete
  7. Terima kasih sdh diingatkan. Bismillah selalu berprasangka baik. Sukaaa.... Selalu ada solusi di setiap permasalahan

    ReplyDelete
  8. Betul sekali, Mbak. Semua tergantung respon kita terhadap suatu masalah, bukan masalahnya. Terima kasih sudah sharing. 😊

    ReplyDelete
  9. suka sama artikelnya...makasih mbak

    ReplyDelete
  10. Masyaa Allah.. Keren ceritanya. Makasih ya mbak. :)

    ReplyDelete
  11. menginspirasi banget mbak, makasih udah diingeti lagi

    ReplyDelete
    Replies
    1. sama-sama mba, saya juga sedang mengingatkan diri saya sendiri ^^

      Delete
  12. Masya Allah, menginspirasi sekali, Mbak kisahnya...

    ReplyDelete
  13. Aku suka ceritanya. Yes, mba kita harus tetap berbaik sangka, karena akan selalu ada hikmah dibalik itu semua.

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung ^^,
meninggalkan jejak yang baik akan membuat yang ditinggalkan menjadi lebih baik